Sejarah Berdirinya Majelis Adat Pekraman Provinsi Lampung

Setelah melalui perjuangan panjang sejak tanggal 12 September 2012, akhirnya pada hari Redite Pahing Wuku Ugu, tanggal 22 Mei 2016 Majelis Adat Pekraman Provinsi Lampung terbentuk dan 100 (seratus) orang tokoh dan bendesa adat Bali yang mewakili krama adat Bali yang ada di Lampung secara aklamasi telah menetapkan Dr. I Ketut Seregig, S.H., M.H. sebagai Ketua Majelis Adat Pekraman Provinsi Lampung yang disebut dengan nama adat Jro Bendesa Agung. Majelis Adat Pekraman Provinsi Lampung selanjutnya disingkat (MAP) adalah organisasi tradisional masyarakat adat Bali yang memiliki asal-usul sebagai landasan historis, hukum adat Bali sebagai landasan hukum materiil dan Undang-Undang Nomor: 6 tahun 2014 sebagai landasan yuridis formil, dengan tetap berpedoman kepada ajaran “Tri Hita Karana” dan “tatvam asi” sebagai norma agama dan azas“salunglung-sabayantaka, paras-paros sarpanaya dan asah-asih-asuh”sebagai norma adat Bali.(Artikel sejarah secara lengkap bisa dilihat pada profil web)

Dalam kehidupan manusia pada dasarnya selalu ingin hidup semuanya serba praktis dan gampang serta tidak mau yang namanya ribet, rumit dan ruwet, tetapi kalau dihayati begitu agungnya Tuhan menciptakan alam beserta isinya tentu tidak seberapa pengorbanan yang dilakukan oleh manusia dalam melakukan pemujaan terhadap Tuhan. Dengan demikian umat Hindu dalam melakukan pemujaan kepada Sang Pencipta yaitu Tuhan selalu menentukan hari yang tepat yang disebut dengan rainan dan tempat yang tepat yaitu tem...

Berada di Jalan Lintas Pantai Timur (Jalinpantim) Sumatera tepatnya di Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung sangat terasa nuansa Bali, diantaranya Desa Sumur Di Kecamatan Bakauhni, Dusun Yogaloka, Desa Ruguk Kecamatan Ketapang hingga ke Desa Tridharmayoga Kecamatan Ketapang. Di sepanjang jalan beberapa rumah dengan pagar pagar, gerbang serta keberadaan Pura Pura keluarga yang dikenal dengan Sanggah dan juga Pura Desa terlihat di kanan dan kiri Jalinpantim.    Pada saat pera...

OGOH-OGOH DAN PESAN TOLERANSI DI LAMPUNG SELATAN

,

Ribuan umat Hindu tumpah ruah di Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan, untuk menggelar Festival Ogoh-ogoh menyambut Hari Raya Nyepi 1 Saka 1939. Acara yang baru dilangsungkan pertama kali dan dipusatkan di Lapangan Kecamatan Way Panji tersebut, dibuka resmi oleh Wakil Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto.   Festival Ogoh-ogoh diikuti peserta dari sejumlah kecamatan, antara lain Sidomulyo, Ketapang, Palas, Candipuro, dan Way Panji sebagai tuan rumah penyelenggaraan. “...

Seperti pada ulasan artikel sebelumya bahwa agama Hindu dalam melakukan pemujaan disertai dengan upacara dan upakara berupa banten atau sesajen kalau masyarakat umum melihat bahwa sesajen yang begitu besar dan acara yang demikian meriahnya adalah suatu tindakan yang menghambur hamburkan uang untuk mengadakan atau membeli sarana dan prasarana upakara.   Dalam melakukan pemujaan terhadap Tuhan beserta manifestasinya tentunya yang menjadi tolok ukur adalah " RASA ", apabila men...

«« Sebelumnya    1  2  3  4  5  6  7  8  9  10      Berikutnya »»
Melasti

Upacara Melasti di Pantai Pasir Putih, peserta Umat Hindu se Provinsi Lampung ...

Baca selengkapnya ››

Tempat Pelaksanaan: Pantai Pasir Putih Lampung Selatan

Diterbitkan pada: , 2017-03-26

Perbaikan Website

20/04/2018 :19:25 BBWI...

Baca selengkapnya ››

Diterbitkan pada: Jum'at, 2018-04-20