SESANA PEMANGKU & NGANTEB UPAKARA PUJAWALI BAG-1

  • Minggu, 06 Agustus 2017 - 17:52:05 WIB
  • Administrator-MAP-Lampung
SESANA PEMANGKU & NGANTEB UPAKARA PUJAWALI BAG-1

GAMBARAN UMUM

Materi yang disajikan dalam buku ini adalah pedoman praktis sesana pemangku yang berisi tuntunan etika dan perilaku agar menjadi seorang pemangku/pinandita yang dapat ditauladani oleh para sisya/penekun spiritual kepemangkuan dan dilengkapi juga dengan petunjuk praktis nganteb upakara pujawali dalam kegiatan piodalan di pura  Dadia/Merajan/Kemulan/Kawitan.

Materi-materi yang disajikanini bersumber dari buku C.Hooykaas yang diterjemahkan Suwariyati berjudul Surya Sevana bagi Pandita Siva dan materi kepemangkuan yang diajarkan Sang Guru Waktra Ida Pandita Mpu Parama Nata Yoga. Selain itu, penulis juga merujuk buku Manggala Upacara yang diterbitkan Dirjen Bimas Hindudan Budha Departemen Agama Republik Indonesia dan Keputusan Pesamuhan Agung Parisada Indonesia Pusat yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini memuat latar belakang penulisan dan ruang lingkup dari isi penyusunan buku ini. Dalam latar belakang akan diuraikan intisari dari buku ini yang menyangkut tentang maksud dan tujuan penulisan buku ini,kendala-kendala yang sering dialami pemangku dalam melaksanakan upacara. Buku ini juga berisi penjelasan yang berkaitandengan ruang lingkup, sumber-sumber pustaka atau literatur yang digunakan dan juga mempedomani warisan buku kepemangkuan yang diberikan oleh orang tua (almarhum) yang selama ini membimbing saya dalam menerapkan ajaran-ajaran kepemangkuan.

Demikian juga kepada beliau Ida Pandita Mpu Parama Nata Yoga Sang Guru Waktra yang telah banyak memberikan tuntunan dalam perjalanan spiritual saya selaku sisya dan pengetahuan suci yang diberikan oleh Ida Pandita, saya tuliskan menjadi sebuah buku yang nantinya mungkin saja dapat dijadikan sebagai pedoman bagi orang lain dalam melakukan pendakian spiritualnya untuk menjadi seorang pemangku. Pendakian spiritual dalam ajaran Catur Asrama yang dilakukan ini merupakan tujuan utama bagi setiap umat Hindu dalam mengisi kehidupan di masa tuanya untuk menuju pada tujuan hidup menurut ajaran Hindu yaitu “morsartham jagadhita ya ca itti dharma”.

BAB II ETIKA PEMANGKU

Dalam Bab diuraikan secara umum tentang etika dan perilaku pemangku yang menjadi bagian terpenting dari ajaran Tri Manggala Upacara. Masalah ini perlu diangkat, karena berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dilapangan, masih ada pemangku yang belum menerapkan sesana/etika secara utuh dalam melaksanakan pengabdiannya di masyarakat, namun realitas ini tidak banyak muncul kepermukaan. Oleh karena itu masalah ini perlu menjadi perhatian kita semua, agar nilai-nilai kesucian yang dijadikan sebagai pedoman etika dan perilaku dalam kehidupan pemangku senantiasa dapat terpelihara dengan baik dan lestari di masyarakat.

Demikian juga tentang pemahaman upakara, fakta fakta yang ditemukan di masyarakat merupakan bukti adanya kecenderungan para sarati banten di nilai memiliki kompetensi/ketrampilan yang lebih mendalam tentang upakara dibandingkan dengan para pemangku, sehingga sang yajamana lebih cenderung meminta petunjuk kepada sarati dari pada pemangku yang akan nganteb.

Faktor-faktor lainnya yang berpengaruh terkait dengan pengetahuan umat Hindu tentang upakara /banten pada umumnya masih kurang, hal ini juga harus menjadi pembahasan tersendiri oleh para diatmika melalui pembinaan tentang ritual agama secara langsung kepada masyarakat.

BAB III DUDONAN UPACARA

Dalam Bab ini akan dijelaskan tentang tata cara nganteb dalam suatu upacara yadnya yaitu piodalan di merajan/sanggah, pura kawitan, pura dadya dan pura kahyangan. Sang yajamana yang dimaksudkan dalam hal ini adalah tidak hanya umat Hindu yang berasal dari Bali saja, tetapi juga umat Hindu yang berasal dari suku jawa atau suku lainnya. Tradisi ritual keagamaan yang digunakan hendaknya terintegrasi dengan baik secara dan bijaksana, tanpa mengurangi makna dan simbol-simbol upakara serta kesakralan dari tradisi ritual yang selama ini diwarisi dari leluhurnya.

Bandar Lampung, 14 Juni 2017

Penulis: Jro Mangku Dr. I Ketut Seregig, SH, MH

 

BAB I

PENDAHULUAN

Secara konseptual kegiatan upacara yadnya di Indonesia, telah berpedoman kepada konsep Tri Manggala Upacara, sesuai dengan keputusan Pesamuhan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, yang menyatakan bahwa yang disebut dengan Tri Manggala Upacara adalah pandita dan atau pinandita/pemangku, yajamana dan sarati. Ketiga pemimpin upacara ini adalah sebagai penentu sukses tidaknya pelaksanaan upacara panca yadnya yang akan dilaksanakan.

Menurut tradisi masyarakat Hindu etnis Bali, besar kecilnya upakara dibagi menjadi 3 bagian, yang disebut dengan nista, madya, uttama. Masing-masing bagian dibagi menjadi 3 (tiga) subbagian, sesuai tingkatannya, yaitu: nistaning-nista, nista ning-madya, nistaning-uttama; madyaning-nista madyaning-madya madyaning-utama; utamaning-nista, utamaning-madya, utamaning uttama.

Permasalahan yang dihadapi oleh para pemangku terutama pemangku pemula dalam pelaksanaan upacara bahwa tidak semua pemangku/pinandita memahami nama, jenis, bentuk upakara/banten yang akan dipersembahkan dalam pelaksanaan ritual/upacara yadnya. Kalau nama upakara masih banyak yang mengetahui, tetapi tidak banyak para pemangku yang mengetahui tentang jenis atau bentuknya, dan juga tidak banyak pemangku bisa membuat upakara, apalagi pemangkuyang belum pernah melihat jenis dan bentuk upakara, maka akan menjadi kendala yang cukup besar dalam pelaksanaan kegiatan upacara yadnya. Namun demikian, pemangku harus tetap dapat melaksanakan kewajibannya dalam memberikan pelayanan kegiatan keagamaan kepada umat Hindu yang ada di desanya, sesuai dengan sesana nya sebagai pemangku.

Pemangku harus terus belajar untuk segera dapat memahami jenis, bentuk, makna, upakara/banten yang sering digunakan dalam melakukan yadnya. Kewajiban para pemangku sebagaimana telah diuraikan diatas merupakan salah satu sesana yang wajib dijalankan dengan penuh rasa bhakti, agar nantinya dapat dijadikan sebagai panutan oleh umat dalam menjalankan kehidupannya di masyarakat.

Selain kewajiban seperti yang telah diuraikan di atas, para pemangku juga wajib memberikan pencerahan melalui dharmawacana atau pesan pesan dharma kepada umat dan apabila diminta oleh umat Hindu untuk nganteb upakara sesuai kewenangannya, maka seorang pemangku tidak boleh menolak tugas dan kewajibannya tersebut.

Tuntunan spiritual kepemangkuan yang selama ini dijadikan sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan ritual kepada sang yajamana, pakem nya sangat mungkin berbeda, sesuai dengan ajaran masing-masing pemangku yang diterima dari guru waktra yang membimbingnya. Pada prinsipnya semua petunjuk atau ajaran yang diterapkan itu adalah benar, sepanjang tidak bertentangan dengan kitab suci veda dan tidak boleh bertentangan dengan etika kepemangkuan nya. Faktor terpenting yang diperlukan dalam hal ini adalah semangat mengabdi tanpa pamrih dan penuh dengan rasa bhakti yang tulus.

 

Bagi pemangku pemula dalam melaksanakan nganteb upakara pada suatu upacara yadnya, sering diselimuti oleh keragu-raguan apakah cara yang dilakukan ini sudah benar atau tidak? Maka penulis melalui buku ini berusaha menuliskan secara simpel dan rinci mengenai tatacara yang harus dipedomani ketika nganteb upakara dalam melaksanaan upacara yadnya. Tatacara mepuja yang ada dalam buku ini hanyalah sebatas contoh dalam bentuk dudonan upacara piodalan atau pujawali yang dilakukan di merajan keluarga atau pura kahyangan dengan dudonan caru ayam brumbun, sehingga memberi kemudahan bagi para pemangku pemula dalam melakukan praktik mepuja, terutama bagi para pemangku umat jawa, yang selama ini sering mengalami kesulitan dalam nganteb upacara yadnya, karena kurang mengetahui jenis, bentuk sesaji/banten. Apabila pemangku kurang tekun belajar, maka hal ini dapat menimbulkan kendala yang cukup serius, karena model upakara yang dijadikan sarana selama ini adalah upakara menurut tradisi Bali.

Untuk itulah dalam pendakian spiritual melalui pendalaman pengetahuan tentang etika/sesana pemangku dan upakara/banten, terutama bagi para pemangku umat jawa wajib menggali makna sesaji yang selama ini digunakan oleh umat Hindu jawa dan mencari benang merah atau persamaan nya dengan bentuk dan makna upakara/banten menurut tradisi umat Hindu Bali.

Berkaitan dengan hal-hal tersebut, salah satu dari sekian banyak masalah yang ada, haruslah dapat dijawab oleh seorang pemangku adalah; apakah mantram pemangku yang diucapkan sudah cocok dengan upakara/banten yang ada dihadapannya?  Hal inilah yang harus dicari jawabannya selama pemangku melakukan pendakian spiritual dalam mendalami ajaran kepemangkuan.

Meskipun diantara para pemangkuada yang tidak mengetahui nama atau bentuk upakara yang dihadapinya, seorang pemangku ketika duduk berhadapan dengan upakara/banten, harus dapat menghapus keragu-raguan yang menyelimuti perasaannya dan berusaha menenangkan hati melalui meditasi beberapa saat di tempat duduk, kemudian ngacep Ida Sang Hyang Taksu agar diberikan anugrah kecermelangan pikiran.

Selain itu, dalam pelaksanaan nganteb upakara, para pemangku senantiasa akan didampingi oleh sarati, maka para pemangku pemula tidak perlu ragu-ragu, yang terpenting secara teori seorang pemangku harus mengetahui mantra tentang jenis upakara/banten, hal ini sudah lebih dari cukup sebagai pemangku pemula. Hal yang terpenting yang harus dilakukan oleh para pemangku dalam nganteb upakara adalah para pemangku harus paham betul tentang urut-urutan mepuja dan hafal mantra, karena dalam mepuja para pemangku harus mengucapkan mantra-mantra dengan jelas sehingga suara mantra itu dapat didengar oleh umat Hindu yang sedang mengikuti pelaksanaan upacara atau mengikuti suatu persembahyangan.

Dalam upaya meningkatkan pengetahuan spiritual tentang ajaran weda, disarankan kepada para pemangku agar senantiasa meminta petunjuk dari guru waktra, agar kesalahan-kesalahan dalam mepuja, yang selama ini telah terjadi dalam pelaksanaan nganteb upacara yadnya, segera dapat jawabannya dan diperbaiki. Kemudian para pemangku hendaknya selalu pleksibel dalam melaksanakan kegiatan upacara yadnya dan terus berupaya menggali dan memahami makna-makna yang terdapat dalam upakara/banten menurut tradisi Hindu etnis Bali, terutama yang berkaitan dengan banten bhyakala, caru, prayascita dan upakara/sesaji untuk para dewa.

Pendalaman dan pengamalan terhadap sesana pemangku merupakan wujud kepedulian para pemerhati budaya Bali dalam menjaga kelestarian tradisi, adat-istiadat seni budaya Bali di wilayah Nusantara. Mantra-mantra yang tertuang dalam buku ini, sebagian besar dikutif dari literatur yang berkaitan dengan filsafat (tattva), etika dan ritual/ upacara agama Hindu, yang kemudian dijadikan sebagai sumber utama yang menjiwai buku ini.

Beberapa literatur yang juga dijadikan sebagai sumber penulisan buku ini adalah; buku Surya Sevana, keputusan Pesamuhan Agung Parisada, Buku Manggala Upacara yang disertai dengan penjelasan dari Pandita yang menjadi sumber primer dalam buku ini. Sebagai penulis, saya berharap agar buku ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pengetahuan suci yang sangat baik untuk dibaca, yang dapat menuntun umat Hindu dalam melakukan pendakian spiritual untuk menjadi seorang pemangku yang langsung dapat dipraktikan dalam melaksanakan upacara yadnya, sehingga kendala yang dirasakan selama ini yaitu kebingungan ketika berhadapan dengan upakara /banten akan dapat teratasi.

Buku ini juga dapat memberi tuntunan etika bagi para pemangku agar menjadi panutan dan tidak tercela dalam menjalani kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dengan melaksanakan etika/ sesana pemangku secara sungguh-sungguh dan tulus sebagaimana telah diuraikan dalam buku ini, penulis merasa yakin para pemangku akan memiliki rasa percaya diri dan wawasan tentang pengetahuan ritual/upakara dan etika perilaku pemangku yang mendalam, dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai manggala upacara, sehingga dalam melaksanakan upacara yadnya, pemangku akan merasakan ketenangan, tidak gemetar dan dapat mencapai samadhi dalam berkonsentrasi kehadapan Ida Sang Hyang

Widhi Wasa.

Kendala-kendala lain yang sering dihadapi oleh para pemangku pemula adalah ketika sedang melaksanakan upacara yadnya adalah sering sekali genta yang digunakan oleh pemangku tidak bunyi sesuai dengan harapan, lengket/tidak bergerak, hal ini disebabkan oleh belum adanya keseimbangan rohani dan jasmani dari pemangku dan belum terbiasa dalam menggunakan genta, sehingga tangan yang memegang genta masih kurang stabil dan mantap.

Kendala tersebut diatas sangat lumrah terjadi, maka saran penulis para pemangku pemula harus tekun belajar dengan penuh rasa bhakti, karena umat Hindu sangat memerlukan kehadiran para pemangku untuk dapat memberikan pelayanan kepada umat dalam kegiatan upacara dan dharma wacana, agar umat Hindu mendapat pencerahan agama serta semakin meningkatkan sraddha dan bhakti kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Apabila petunjuk-petunjuk yang ada dalam buku ini dilaksanakan secara rutin, maka semakin lama kendala yang dihadapi dalam melaksanakan puja stawa akan semakin sirna dan seiring dengan kemantapan dan ketenangan hati serta rasa bhakti yang suci dalam mempelajari mantra-mantra yang dibutuhkan dalam menjalankan etika pemangku. Perlu juga penulis sampaikan dalam hal ini bahwa pada awalnya penyusunan buku ini adalah untuk kepentingan diri sendiri dalam mendalami ajaran kepemangkuan, namun kenyataan yang dialami oleh penulis bahwa dalam pelaksanaan mepuja cukup banyak kendala-kendala yang dihadapi sebagaimana telah penulis uraikan diatas dan atas dasar pengalaman itulah timbul keinginan penulis untuk melengkapi buku ini dengan menambahkan beberapa permasalahan yang selama ini telah dialami tersebut, dengan maksud untuk memberi motivasi dan berbagi pengalaman dalam belajar, terutama bagi calon pemangku dan pemangku pemula. Sebagai intisari dari buku ini adalah uraian tentang tata cara nganteb upakara piodalan di merajan atau pujawali yang dapat dijadikan sebagai tuntunan/pedoman praktik mepuja dalam menjalankan sesana sebagai seorang pemangku.

Sebagai akhir kata, sebagai penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam buku pedoman ini terdapat kekeliruan baik isi maupun tulisannya. Bagi kami, tiada gading yang tidak retak, tak satupun pekerjaan manusia sempurna, walau kita tahu bahwa manusia adalah mahluk yang sempurna.

BAB II

ETIKA PEMANGKU

 

1.  Etika Pemangku

Pandangan umat Hindu tentang etika cenderung beragam. Dalam masyarakat adatBali, ada yang mengatakan bahwa Etika sama dengan etiket; karena menyangkut serangkaian aturan tentang interaksi sosial umat Hindu Bali dalam kehidupan sehari-hari meliputi tata cara bertutur kata, tingkah-laku, baik individual maupun kelompok, sesuai dengan tingkatan umur yaitu orang tua, orang yang lebih dewasa, sebaya dan lebih muda. Disisi lain ada yang mengatakan bahwa etika adalah tata krama atau sopan-santun yang diamalkan umat Hindu dalam pergaulan hidup sehari-hari.

 

Secara harfiah etika adalah kata yang bersifat abstrak tetapi mengandung arti nilai atau norma yang bermakna suatu kesopanan. Untuk dapat melihat wujud dari etika maka harus diragakan dengan menggunakan cara-cara tertentu agar etika sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Proses yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan sesuai dengan nilai atau norma yang di inginkan disebut etiket. Dengan kata lain bahwa etiket adalah aturan moralitas yang mengandung nilai-nilai kesopanan.

Dalam sistem kehidupan masyarakat adat Bali istilah etiket sudah melekat sebagai bahasa sehari-hari, misalnya: bila ada seseorang tidak menggunakan etika dalam suatu situasi kondisi tertentu, maka orang tersebut akan dinyatakan sebagai orang yang melanggar etiket. Pada dasar nya etika perilaku yang wajib dilakukan oleh para pemangku/pinandita hampir sama dengan etika kepanditaan, yang membedakan adalah; untuk menjadi pandita harus dilaksanakan upacara diksa dwijati. Tetapi untuk menjadi pemangku cukup dengan melakukan upacara pewintenan pemangku dengan menggunakan pedudusan alit yang dilakukan oleh seorang Pandita. Sesungguh nya sang ekajati adalah Ida Bawati Jro Gede, namun dresta yang ada pada masyarakat adat Bali, status pemangku diakui sebagai sang ekajati (Mpu Parama Nata Yoga, 2006).

Mengacu pada etika/sesana aguron-guron yang berkembang dalam tradisi masyarakat adat Bali, seorang pemangku adalah sisya dari seorang pandita. Dalam hal sang pandita menjadi guru, maka beliau disebut Guru Waktra. Pengangkatan sisya oleh Pandita diawali dengan melakukan upacara upanayana yang dalam tradisi adat Bali disebut upacara pawintenan saraswati, setelah itu kewajiban Sang Guru yang bertanggungjawab sepenuhnya dalam memberikan tuntunan ajaran suci weda kepada sisyanya.

Demikian hubungan antara guru dengan murid (Guru Waktra dan Sisya), yang secara spiritual telah terjadi hubungan seperti orang tua dengan anaknya. Ketika sisya dianggap telah mampu mengucapkan mantra-mantra yang diajarkan sang guru, maka sisya diwintenkan di pura kahyangan sesuai dengan keinginan dari prajuru adat, atau pihak keluarga dan dalam pawintenan tersebut wajib disaksikan oleh krama dan prajuru adat serta keluarga.

Apabila sisya telah melaksanakan pewintenan, maka Pandita selaku sang guru waktra akan menganugrahkan gelar mangku didepan nama sisya yang telah diwinten tersebut. Dalam prosesi pawintenan tersebut, Guru Waktra wajib memberi wejangan/penika yang berisi pesan-pesan atau nasehat agar pemangku dalam menjalankan tugas dan kewajibannya wajib mengikuti sesana/etika perilaku kepemangkuan, sesuai dengan tuntunan etika yang telah diajarkan oleh Pandita selaku Guru Waktra.

Dalam kehidupan sehari-hari, pemangku wajib meningkatkan pengetahuan agamanya dengan cara mempelajari kitab suci weda, khususnya menghafalkan mantra-mantra puja stawa dan terus melatih diri menggunakan genta sebagai bagian dari Panca Iswara yang menjadi satu kesatuan dalam melaksanakan puja atau kegiatan upacara piodalan atau upacara lainnya. Setelah diangkat menjadi pemangku, dalam bertingkah-laku sehari-hari wajib mengikuti ketentuan etika atau sesana, dan apabila pemangku melakukan kesalahan, secara niskala pemangku bertanggung jawab kehadapan Bhatara Siwa dalam manifestasi- Nya sebagai Sanghyang Rareangon yang berstana pada pelinggih Hyang Taksu.

Menjadi pemangku harus taat dan patuh dalam menjalankan sesana. Bila ia melanggar maka pasti akan terkena kutukan Sang Hyang Rareangon yang berstana pada pelinggih Sanghyang Taksu dan Ida Sang Hyang Aji Saraswati yang menguasai pengetahuan suci, dan apabila hal ini terjadi pada seorang pemangku, ia akan mendapat hukuman penderitaan semasa hidupnya dan tidak pernah merasakan kebahagiaan, namun sebaliknya bila dalam kehidupannya seorang pemangku selalu taat menjalankan sesana dan setia terhadap pesan-pesan atau nasehat sang guru waktra, maka pengetahuan yang dimilikinya akan menjadi sempurna, tubuhnya akan diselimuti cahaya suci para dewa, wajahnya akan bercahaya/berseri-seri, sorot matanya teduh, tubuhnya akan terlihat selalu bersih dan aura kebahagiaan senantiasa bersemayam dalam dirinya.

Begitulah seharusnya kehidupan yang dialami oleh seorang pemangku dalam melaksanakan kewajibannya, apabila ia taat dengan sesana, sepanjang hidupnya ia akan menjadi tapakan Bhatara, dihormati dan dijadikan panutan oleh seluruh umat serta ditaati oleh krama dan prajuru adatnya. Demikian pula apabila pemangku rajin belajar dan selalu meningkatkan pengetahuan suci yang dipelajarinya, maka pengetahuan yang dimilikinya akan selalu sempurna dan sangat bermanfaat bagi umat yang dilayaninya.

Dalam tradisi masyarakat adat Bali terkait dengan konsep aguron-guron, seorang pemangku berhak memperoleh peningkatan status dirinya menjadi seorang Bawati Jro Gede dan ketika Sang Guru telah mengupacarakan pemangku menjadi Bawati Jero Gede, ia disebut sang ekajati, digolongkan kedalam kelompok brahmana dan sejak itu pula status Pandita sebagai Sang Guru Waktra berubah menjadi Guru Nabe. Peningkatan status sisya ini tergantung pada kemampuan pengetahuan dan penguasaan mantra-mantra weda dari pemangku itu sendiri dan otoritas penilaiannya ada pada Sang Guru Waktra.

2. Pengertian Diksa

Kata diksa berasal dari bahasa sansekerta yang artinya suatu upacara penerimaan menjadi murid dalam hal kesucian. Dari kata diksa ini muncul kata diksita artinya diterima menjadi murid (sisya). Dalam perkembangan selanjutnya kata diksa yang diartikan oleh masyarakat sebagai suatu upacara penyucian diri–dwijati.

Kata diksa lazim dipakai oleh seorang yang akan melaksanakan Upacara Diksa Dwijati. Kata dwijati berasal dari akar kata ”ja” yang artinya lahir, kata “dwi” artinya dua. Dwijati artinya lahir kedua kali nya. Dasar hukumnya dapat kita temukan dalam kitab Atharva Veda XI.11 yang menyebutkan sebagai berikut:

Satyam Brhad Rtam Ugram Diksa Tapo

Brahman Yajña Prithiwim Darayanti.

 

Artinya:

Sesungguhnya satya rta diksa tapa brahman dan yajña, yang  menyangga dunia  ini. (Dana, 1996:2)

Lahir yang pertama kali dari kandungan ibu dan lahir yang kedua dari seorang guru suci atau nabe. Dalam kitab Siwa Sasana disebutkan bahwa ketika seseorang telah disucikan melalui proses upacara diksa, maka ia akan disebut sebagai sang dwijati dan sejak dinyatakan sebagai pandita, dari pada nya diharapkan dapat mentaati etika atau sesana sang wiku (pandita) dan setelah itu sang dwijati diberi gelar (abiseka) sesuai dengan keturunan nya.

Misalnya, kerutunan mahagotra pasek sanak sapta Rsi Abisekanya adalah Ida Mpu, apabila dari keturunan brahmana, maka abhisekanya adalah Ida Pedanda, dan lain-lain (sesuai petunjuk Nabe) dan sebutan secara nasional para Brahmana yang telah ditetapkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia adalah Ida Pandita. Dengan penobatan nya sang dwijati menjadi Ida Pandita, maka Ida akan memiliki wewenang yang sangat luas dan lengkap dalam muput berbagai upacara/ritual yajña yang harus dilakukannya sesuai dengan ketentuan ajaran agama termasuk dalam memberi air suci (tirtha).

Adapun pustaka/lontar yang memuat tentang upacara diksa dan kawikon antara lain: krama mediksa, kramaning dadi wiku, silakrama, siwa sasana, wertisasana, Widhi Papincatan, dll. Selain itu juga berpedoman pada ketetapan Maha Sabha Parisada Hindu Dharma Indonesia II tahun 1968 dan keputusan seminar kesatuan tafsir terhadap aspek agama Hindu yang ke-14 Tahun 1986 yang dilaksanakan pada tanggal 11 s/d 12 Maret 1987, tentang Pedoman pelaksanaan Diksa.

3.  Tujuan Diksa

a.  Meningkatkan kesucian diri sang diniksan untuk dapat mencapai kesempurnaan hidup manusia dan menjadi titik kulminasi dalam meningkatkan kesucian diri dari tingkatan ekajati ketingkat dwijati.

b. Mencapai kesucian diri adalah menjadi kewajiban hidup bagi setiap umat Hindu, karena hanya dengan melakukan saucam/ pensucian diri,maka seseorang akan lebih cepat dapat menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa, dan aura sinar suci para dewa akan selalu menyelimuti seluruh tubuhnya.

4.    Kewajiban Pemangku

a. Untuk dapat menjaga kesucian diri, maka seorang pemangkuwajibmelakukan puja Parikrama atau surya sewana 3 kali sehari; pagi, siang, sore.

b. Pemangku/pinandita tidak kena cuntaka, juga tidak nyuntakain (kecuali pemangku istri yang sedang haid).

5.    Pengertian pandita

Dalam agama Hindu, terdapat berbagai istilah dalam penyebutan gelar kepanditaan. Kata pandita berasal dari akar kata pand yang artinya mengetahui. Istilah pandita diberikan bagi seseorang yang telah didiksa dwijati dan diyakini telah memiliki pengetahuan suci weda yang cukup dan telah teruji memiliki sifat yang arif dan bijaksana. Diksa dwijati adalah syarat paling utama bagi seseorang untuk dapat menyandang status sebagai Pandita. Dari kata pandita inilah kemudian timbul sebutan untuk pinandita.

6.    Pengertian Pinandita

Kata pinandita berasal dari kata pandita mendapat sisipan ”in”, yang artinya di dalam. Jadi pengertian pinanditaadalah seseorang yang berada di dalam kewenangan pandita, dengan kata lain sering juga disebut sebagai pembantu pandita. Guna mencapai tingkat status pemangkuini harus melalui upacara pawintenan yang disebut ”pawintenan”.

7.    Pengertian Pawintenan

Dalam sastra yang ditulis pada lontar-lontar dan keputusan dari jawatan agama Provinsi Bali Nomor: 85/Dh.B/SK/U-15/1970 tanggal  20 April 1970 dan keputusan seminar aspek-aspek agama Hindu yang dilaksanakan di Kabupaten Amlapura Bali yang menyebutkan beberapa tingkatan dari pewintenan, antara lain:

  1. Pawintenan Saraswati (masa brahmacari)
  2. Pawintenan Bunga (setelah grehasta)
  3. Pawintenan Sari (belajar tentang veda)
  4. Pawintenan Gede (menjadi pemangku).

Kata pawintenan berasal dari kata ‘inten’ yang artinya permata yang bercahaya. Upacara pawintenan adalah suatu upacara yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan sinar suci dari Ida Sang Hyang Widhi, dengan suatu harapan agar yang diwintenkan dapat mengerti, memahami, menghayati dan dapat  mengamalkan ajaran suci veda tanpa adanya aral melintang.

8.    Tingkatan Pemangku/Pinandita

  • Pemangku
  • Wasi
  • Mangku Balian/Dukun
  • Mangku Dalang
  • Dharma Acarya
  • Pangemban/Pendidik tentang kerohanian.

9.    Pemangku menurut swadharma

Dengan merujuk kepada swadharma sebagai pemangku, maka sebutan seorang pemangku dikelompokan sesuai tempat pengabdiannya pada pura-pura yang ada, yaitu; mengabdi di pura kahyangan jagat disebut Mangku Pura kahyangan Jagat, bila mengabdi di pura Sad Kahyangan disebut Mangku Sad Kahyangan misalnya: Mangku Silayukti, Mangku Uluwatu, Mangku Lempuyang, dll, mengabdi di pura kahyangan tiga disebut Mangku Desa, misal: Mangku Dalem, Mangku Puseh dan Mangku Baleagung. dan ada sebutan-sebutan mangku lainnya, seperti:

  1. Pemangku pemongmong yang membantu pelayanan di bidang protokoler.
  2. Pemangku Jan Banggul yang membantu pelayanan umat ketika ada suatu upacara di pura.
  3. Pemangku Cungkub adalah mangku yang memberi pelayanan di Pura/Merajan Gede dengan pelinggih diatas 10 bangunan.
  4. Pemangku Nilarta adalah pemangku yang bertugas di pura Kawitan.
  5. Pemangku Pinandhita adalah mangku yang membantu pandita dalam muput upacara. Pinandita mempunyai wewenang terbatas untuk lokaphalasraya dalam batas tuntunan dan petunjuk dari pandita.
  6. Pemangku Bujangga adalah mangku yang bertugas di Pura Paibon.
  7. Pemangku Balian adalah pemangku yang bertugas memberikan pengobatan orang sakit.
  8. Pemangku Dalang adalah pemangku yang bertugas sebagai dalang yang berwenang Nyapuh Leger.
  9. Pemangku Lancuban adalah pemangku yang bisa kerawuhan sebagai tapakan Ida Bhatara untuk menurunkan roh leluhur.
  10. Pemangku Tukang adalah pemangku yang memahami ajaran wiswakarma, meliputi; undagi, sangging, tukang wadah, tukang banten, dan lain-lainnya.
  11. Pemangku Kortenu adalah mangku yang bertugas di pura Prajapati atau Ulun Setra.

10.  Kelengkapan Upakara Pawintenan

Upakara yang diperlukan dalam prosesi upacara pawintenan gede atau pawintenan pemangku sarana rerajahan aksara sucinya lebih lengkap dari pawintenan saraswati, bunga dan sari. Berkaitan dengan tatacara pelaksanaan upacara mewinten sebagaimana diuraikan diatas, yang lebih berkompeten memberi penjelasan tentang makna upakara tersebut adalah sang pandita, karena yang berwenang dalam melaksanakan pawintenan terhadap calon pemangku adalah pandita (guru waktra).

Bagi seseorang yang berkeinginan menjadi pemangku, setelah disepakati oleh keluarga dan adat sebaiknya mencari guru waktra terlebih dahulu dan melakukan pawintenan saraswati. Apabila pengetahuannya sudah di anggap cukup oleh Sang Guru Waktra, maka dilanjutkan dengan melakukan pawintenan pemangku, hal ini bertujuan agar maksud dan tujuannya dapat tercapai dengan sempurna.

11.  Sesana Pemangku

Hidup sebagai seorang pemangku memiliki aturan khusus yang mengikat, yang disebut sesana pemangku, yaitu; norma-norma etika yang mengatur tentang sikap dan perilaku pemangku dalam kehidupannya sehari-hari. Sesana ini menjadi kode etik yang harus dipatuhi dan dilaksanakan.

Menjadi seorang pemangku harus benar-benar menghayati secara mendalam seluruh sesana yang mengikat kehidupannya, baik mengenai sikap perilaku atau kemampuan dalam hal spiritual yang harus dimiliki oleh seorang pemangku.

Dengan mengetahui dan memahami sesana, seorang pemangku akan selalu berupaya mentaatinya, sebab apabila tidak demikian, yang bersangkutan akan terkena alpaka guru dan akan dikutuk oleh Ida Betara Siwa dalam manifestasiNya sebagai Ida Sang Hyang Rare angon (Ceramah Ida Pedanda Gede Made Gunung di  STAH Lampung, 12 Maret 2011).

12.  Dasar-Dasar Sesana Pemangku

Dalam lontar Silakrama ditekankan bagi para pemangku wajib memahami, mengamalkan ajaran yama–pengendalian diri. Yama adalah tangga pertama dari Astangga Yoga yang di implementasikan melalui konsep ajaran Panca Yama Niyama Brata yang dijadikan sebagai dasar pertama dalam menjalankan sesana pemangku.

13.  Panca Yama Brata

  1. Ahimsa:  tidak membunuh, menyakiti.                         
  2. Brahmacari:  masa menuntut ilmu.
  3. Satya: Sifat Jujur, selaluberkata benar.
  4. Awyawahara:  tidak bertengkar/berkelahi, dan senantiasa menjaga ketentraman baik pribadi atau masyarakat.
  5. Asteya: tidak mencuri.

14.  Panca Nyama Brata

  1. Akroda: tidak pemarah/temperamental.
  2. Guru Susrusa: taat terhadapajaran guru.
  3. Sauca: menjaga kesucian lahir-batin.
  4. Aharalagawa: tidak rakus, makan secukup nya berhenti sebelum kenyang.
  5. Apramada: tidak sombong dan tidak lalai–hilang kesadaran dan tidak lupa diri yang menjadi sumber kehancuran diri.

15.  Duabelas Sesana Sang Wiku

Sesana kewikuan ini sengaja ditambahkan dalam buku ini, karena pada saatnya nanti seorang pemangku akan menjadi pandita. Duabelas Sesana Sang Wiku tersebut, tertuang dalam kitab Sarasamuccaya sloka 57 sebagai berikut:

Dharmacca satyam ca tapo damacca

vimatsaritvam hrih titiksa anasuya yajñacca

danam ca dhritih ksamaca mahavratani

dvadaca vai brahmanasya.

Artinya:

Inilah bratanya Sang Brahmana, dua belas banyaknya: dharma, satya, tapa, dama, wimatsaritwa, hrih, titiksa, anasuya, yajña  dana, dhrti, ksama.

Secara rinci diuraikan sebagai berikut:

  • Dharma:  memegang teguh kebenaran
  • Satya:  jujur dalam berpikir, berkata dan berbuat.
  • Tapa: dapat mengendalikan jasmani dan nafsu                      
  • Dama: tenang-sabar-tahu menasehati diri sendiri.
  • Wimatsaritwa: tidak dengki-irihati.
  • Hrih: mempunyai rasa malu.
  • Titiksa: jangan sangat gusar.
  • Anasuya:  tidak berbuat dosa.
  • Yajña: berkorban tanpa pamerih
  • Dana: gemar memberikan sedekah.
  • Dhrti: penenangan dan pensucian pikiran.
  • Ksama: sabar dan suka mengampuni.

16.  Kewajiban Pandita dan Pinandita

Baik pandita, pemangku/pinandhita memiliki sepuluh kewajiban yang disebut dengan dasa krama paramartha, yaitu:

  • Tapa: teguh dan kuat pendirian memuja Ida Sang Hyang Widhi.
  • Brata: melaksanakan disiplin batin yang ketat mengurangi makan-aharalagawa dan mengurangi wakru tidur, tidak melanggar pantangan meninggalkan pengaruh panca indriya, taat dalam melaksanakan yama-niyama brata.
  • Yoga: sikap tubuh melatih pernafasan atau pranayama guna menyeimbangkan stula sarira dengan sukma sarira sebagai suatu sikap dalam memusatkan diri kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan melebur mala pada diri.
  • Samadhi: memusatkan pikiran kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga tidak terpengaruh suatu kondisi luar-nirwikara.
  • Santa: berpikir cemerlang–berpenampilan yang tenang.
  • Sanmata: berperasaan yang riang gembira meski sedang menghadapi cobaan hidup.
  • Maitri: senang mengatakan hal-hal yang baik dan benar serta sikap perilaku yang sopan-santun.
  • Karuna: senang tukar pikiran dengan sesama, baik dengan hal-hal yang bersifat wahya, maupun yang bersifat adhyatmika, mengasihi sarwa tumuwuh/semua mahluk.
  • Upeksa: tahu perbuatan baik–buruk, benar salah dan suka memberi petunjuk kepada orang yang belum memahami arti baik atau buruk.
  • Mudhita: mencintai kebenaran, memiliki budi pekerti luhur, cemerlang dalam hidup

17.  Wewenang Pemangku

Walaupun pemangku disebut sebagai wakil pandita, tetapi juga memiliki kewenangan yang biasanya telah disampaikan oleh sang pandita sebagai guru waktra dari pemangku tersebut, pada saat pelaksanaan pawintenan untuk menjadi pemangku, antara lain:

  • Menyelesaikan upacara yajña sepanjang sesuai dengan batas kewenangannya.
  • Kewenangan tersebut antara lain meliputi upacara Bhuta Yajña, sampai pada tingkat caru manca sato, upacara manusa yajña sampai dengan otonan dan pawidhi widana tingkat kecil.
  • Menyelesaikan upacara pitra yajña yang terbatas pada mendem sawa/mekingsan di gni.
  • Memohonkan air suci (tirtha panglukatan/ pebersihan).
  • Nganteb upakara pada upacara atau yajña tertentu di lingkungan keluarga dengan tirta pamuput dari pandita.
  • Istilah yang boleh digunakan pemangku adalah Nganteb bukan muput.
  • Membantu kegiatan upacara yajña tertentu yang dilaksanakan di suatu pura atas seijin dari pemangku di pura tersebut.
  • Menggunakan genta pada saat mepuja.
  • Menggunakan mantra dan mudra tertentu apabila sudah mewinten dengan ayaban bebangkit dan sudah mendapat bimbingan dan ijin dari pandita selaku guru waktra.

18.  Busana Sang Pinandita atau Pemangku

Busana pemangku atau kelengkapan yang wajib dipergunakan oleh seorang pemangku adalah sebagai berikut:

  • Rambut panjang atau bercukur.
  • Pakaian: destar, baju, saput, kain dalam melakukan upacara, semuanya berwarna putih.
  • Dalam mepuja, pemangku menggunakan: genta, dulang, pasepan, sangku (tempat air suci atau tirtha), bunga dan bija.

19. Hak Pemangku atau Pinandita

Dengan mempertimbangkan cukup beratnya tugas dan kewajiban dari seorang pemangku, maka krama adat atau keluarga besar yang telah mengangkat pemangku sudah sepatut nya harus memikirkan rsi yadnya yang wajib diberikan kepada seorang pemangku untuk menyambung kehidupan keluarganya, hal ini bertujuan agar pemangku dalam menjalankan tugas sebagai pelayan umat akan senantiasa lebih taat dengan sesananya. Berikut ini akan diuraikan tentang hak pemangku/pinandita sebagai berikut:

a.  Hak Wajib

  • Bebas dari ayahan desa
  • Menerima sesari/bagian sesari
  • Menerima hasil pelaba pura (bila ada)

b. Hak Tidak Wajib

  • Mengasuransikan pemangku.
  • Memberi honor pemangku

20.  Cuntaka Bagi Pemangku

Pemangku dalam melaksanakan sesananya, tidak terikat oleh aturan cuntaka (sebel atau tidak suci) kecuali dalam hal-hal sebagai berikut:

  • Kena cuntaka bila ada anggota keluarga serumah yang meninggal dunia.
  • Khusus pemangku istri terkena cuntaka apabila sedang haid.
  • Pemangku bujangan, bila kawin, setelah nya harus mesepuh (mewinten) dengan tingkat ayaban yang sama seperti sebelum bersama-sama istrinya.

21.  Larangan Keras Bagi Pemangku

  • Pemangku yang melakukan tindak pidana atau melakukan perbuatan kriminal, dalam kaitan dengan hal ini harus diberhentikan sebagai pemangku oleh warganya.
  • Pemangku dilarang: memikul, nyuwun sesuatu yang tidak patut, duduk atau nongkrong di warung, judi tajen, mabuk-mabukan.
  • Pemangku dilarang melanggar ajaran Tri Kaya Parisuda, anayub cor, tidak makan dan minum di rumah orang yang sedang cuntaka, tidak mengusung mayat/layon, tidak diungkulin oleh orang yang sedang mengusung mayat, orang yang nyuwun tirtha pengentas.
  • Pemangku tidak diperbolehkan memikul bajak, menarik sapi, menginjak tahi sapi, buang hajat di air, mewarih atau kencing di abu, api atau air.
  • Pemangku dilarang makan makanan yang tidak patut, tidak boleh tidur sekamar bila istri sedang haid.
  1. Penghormatan untuk pemangku
  • Bila pemangku meninggal dunia, jenazah nya tidak boleh dipendem (dikubur), tapi harus diabenkan secara langsung, apabila keluarganya tidak mampu mengabenkan; untuk pemangku desa wajib dilakukan oleh desa adat, untuk pemangku banjar wajib dilakukan oleh adat banjar, untuk pemangku dadya wajib dilakukan oleh keluarga dadya dan bila pemangku pura kahyangan jagat yang meninggal, maka kewajiban dilakukan oleh adat pengempon pura kahyangan jagat.
  • Pemangku wajib bersyukur karena telah ditakdirkan menjadi orang yang disucikan. Seorang dalam kehidupannya tidak begitu saja bisa menjadi pemangku. Dalam lontar yama purana tattwa disebutkan, kehidupan manusia sudah direncanakan jauh sebelum terjadinya reinkarnasi. Karena itu jangan menganggap menjadi pemangku adalah “suatu kebetulan”.
  • Menjadi pemangku merupakan anugrah, karena; pertama, ia akan menjadi tapakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan menjadi manusia utama dihadapanNya; kedua, ia memiliki kesempatan seluas-luasnya untuk mensucikan dirinya dijalan dharma, untuk mencapai moksartham jagadhita ya ca itti dharma; ketiga,memiliki kesempatan untuk melaksanakan tugas suci mengabdikandiri kepada masyarakat, sebagai karmawasana yang baik untuk mencapai moksa.
  • Pada hakikatnya pemangku di sayang Ida Sang Hyang Widhi atau Dewata/Bhatara, karena itu pertahankanlah dan peganglah tugas ini dengan penuh rasa bhakti, agar tugas mulia dan suci ini dapat terlaksana dengan baik, sehingga dapat menjadi pemangku yang sesuai dengan sesananya yang akan mengharumkan linggih Bhatara/ Dewata. Seorang pemangku dalam hidup dengan penuh keikhlasan, disiplin dan taat karena ia akan selalu disucikan, dihormati umat Hindu, baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat.
  • Pemangku yang melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik akan mendapat karma yang baik, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi arwah leluhurnya, sampai tujuh tingkat keatas (rontal yama purana tattwa).
  • Pemangku adalah pengabdi yang utama: yang dimaksud sebagai pengabdi utama dalam hal ini adalah seluruh aktivitas yang dilakukan dalam kehidupannya di dunia di persembahkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dan masyarakat.
  • Untuk dapat melaksanakan tugas dan kewajiban sebagaimana telah diuraikan di atas, seorang pemangku harus mendalami dan mengamalkan ajaran agama meliputi; tattwa, susila, ritual/upacara. Pengetahuan suci ini akan didapatkan oleh pemangku melalui proses belajar dari guru yang baik, melalui membaca buku, lontar, dharma wacana, kursus atau pelatihan.
  • Kegiatan tersebut diatas dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi para pemangku tentang agama Hindu. Dalam lontar dharma kauripan disebutkan bahwa sulinggih yang baik adalah sulinggih yang ”berilmu”.
  • Pemangku akan cepat dapat mencapai kemajuan dalam menimba pengetahuan, bila ia mempunyai sifat-sifat dan pemikiran seperti: tidak sombong, rendah hati, tidak fanatik sempit, mau mendengar pendapat orang lain, rajin dan disiplin, berpikir kreatif dan inovatif, obyektif dan jujur, pandai mengambil keputusan (Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, 2000: 4).

BAB III

TATACARA NGANTEB UPACARA

DI PURA KAWITAN/DADIA

A.   Pendahuluan

Dalam persiapan nganteb suatu upacara, baik atas permintaan sang yajamana atau upacara piodalan di pura tempat yang bersangkutan mengabdi, pemangku wajib melakukan asuci laksana atau pensucian diri dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. Kegiatan di Kamar Mandi

    a.  Menggosok Gigi: 

     Om sri devi bhatrimsa yogini namah

b. Mencuci Mulut:

     Om hum phat astraya namah

c. Mencuci Muka:

     Om, Om vaktra parisudha mam svaha

d. Mandi:

     Om gangga amrta sarira suddhamam svaha

2.    Pakaian dalam atas dan bawah

Om kaupina brahma samyuktah

Mekhala visnu samsmrtah

Antarvasesvaro devah

Banddham astu sada siva

3.    Mantra Berpakaian

a. Memakai Kampuh (kamen)

Om, Om siva sthiti ya namah

b. Memakai Saput:

Om tam Mahadeva ya namah

c. Memakai Sabuk:

 Om, Um Visnu ya namah

4.    Duduk Menghadapi Upakara

a. Mantra duduk:

     Om, am prasadha sthiti sarira          

     siva suci nirmala ya namah

b. Mantra Pranayama:

     Om Ang namah (tarik nafas)

     Om Ung namah (tahan nafas)

     Om Mang namah (hembuskan nafas)

c. Mensucikan tangan:

     Om sudhamam svaha (kanan diatas)

     Om ati sudhamam svaha (kiri diatas)

d. Menyalakan Dupa dan Dipa:

      Om Am dhupa-dhipaastra ya namah

e. Mantra Kembang:

     Om puspa danta  ya namah

f. Mantra Mensucikan Air:

     Om Hrang Hring Sah parama siva

     Gangga Tirta amrta ya namah svaha

Percikan Air Suci:

Bawah Pinggang

Om Am siva amrta ya namah

Om Am sada siva amrta ya namah

Om Am parama siva amrta ya namah

Om,Om siva amrta ya namah

Om,Om sada siva amrta ya namah

Om,Om parama siva amrta ya namah

Badan bagian atas

Om budha maha pavitra ya namah

Om dharma maha tirta ya namah

Om sanghyang mahatoya

ya namah svaha

5.    Mantra Genta

Ambilah genta dengan tangan kiri, kemudian angkat setinggi dada kiri, lalu percikan tirtha tiga kali, lalu asapi genta diatas dhupa hingga rongga genta penuh dengan asap, kemudian ambil kalpika atau kembang dengan posisi di belakang tangan kiri, lalu ucapkan mantra:

Om....Om karah sada siva sthah,

Jagatnatha hitankarah,

Abhivada vadaniyah

Ghanta sabda prakasyate

Om ghanta sabda maha sresthah

Omkarah parikirtitah

Candrardha bindu nadantam

Sphulinga siva tattvam ca

Om ghantayur pujyate devah

Abhavya bhavya karmasu

Varadah labdha sandheyah

Vara siddhir nihsansayam

Setelah itu pegang lidah genta diantara ibu jari, telunjuk dan jari tengah tangan kanan, lalu putar lidah genta dibibir genta kearah jarum jam, sambil mengucapkan mantra dan dibunyikan, lakukan sebanyak 3 kali.

Putaran pertama, Mantra:

Om, Om, Om.......kemudian pukul bibir genta dengan lidah genta kearah badan, lalu tangan memutar satu lingkaran kearah depan.

Putaran kedua, Mantra:

Mam, Um, Am.....kemudian pukul bibir genta dengan lidah genta seperti gerakan pertama.

Putaran ketiga, Mantra:

Om-A-Kham khasolka ya namah, lalu lakukan gerakan seperti putaran pertama dan kedua.

6.    Astra Mantra

Om hum rah phat astraya namah,

Om atma-tattwatma sudha mam svaha

Om, Om ksama sampurnaya namah svaha

Om sri pasupataye hum phat

Om sryambhavantu, Om sukham bhavantu,

Om purnam bhavantu ya namah svaha

Catatan:

Mantra tersebut diatas, harus diucapkan sambil memercikan air suci ke udara, sebagai wujud penghormatan kehadapan para deva.

 

Bersambung Bagian 2 => baca-berita-222-sesana-pemangku--nganteb-upakara-pujawali-bag2.html

  • Minggu, 06 Agustus 2017 - 17:52:05 WIB
  • Administrator-MAP-Lampung

Berita Terkait Lainnya