FILOSOFI CARU DALAM TRADISI UPACARA AGAMA HINDU (ETNIS BALI)

  • Selasa, 21 Januari 2020 - 18:52:46 WIB
  • Administrator-MAP-Lampung
FILOSOFI CARU DALAM TRADISI UPACARA AGAMA HINDU (ETNIS BALI)

Bhisama Guru Nabe Ida Mpu Parama Nata Yoga, Januari, Tahun 2006

UPACARA adalah CARU

CARU adalah RUDRA

RUDRA adalah CIWA

CIWA adalah ALAM

Alam adalah Bhuwana Agung-Bhuwana Alit

Melaksanakan Caru adalah menyatukan kekuatan Ciwa

Menanding Caru adalah menanding Alam kembali

Sempurna Caru, maka sempurnalah Alam

Sempurna Alam, maka sempurnalah kehidupan

di Alam Semesta beserta seluruh isinya.

Inilah Filosofi Caru dalam Upacara Tradisi Hindu Bali

 

A.Fisolofi Caru (Bhisama Guru Nabe)

Artikel ini ditulis berdasarkan data-data empirik yang dikumpulkan ketika penulis menjadi Ketua Parisada Kota Bandar Lampung tahun 2002-2007, kemudian menjadi Sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Lampung tahun 2007-2012 dan pada periode tahun 2016–2022, penulis dipercaya oleh Krama Desa Adat Bali yang ada di Lampung sebagai Ketua Majelis Adat Pekraman Provinsi Lampung. Pada tahun 2006 menjadi sisya dari Ida Pandita Mpu Parama Nata Yoga (sampun Newata), yang kemudian dilanjutkan oleh Ida Brahmanaputra Pandita Abiseka Ida Mpu Siwabuddha dari Griya Tianyar Bali. Pengalaman berorganisasi dalam kurun waktu yang panjang ini dan menjadi sisya dari Ida para Guru Nabe, penulis menjadikan CARU sebagai objek studi empirik dalam tradisi upacara menurut adat Bali. Sampling yang digunakan adalah upacara ngenteg linggih, mulai dari ngeruak sampai dengan upacara piodalan menurut tradisi umat Hindu suku Bali dan ajaran-ajaran suci yang diperoleh dari Guru Nabe yang sudah Newata yaitu Ida Pandita Mpu Parama Nata Yoga dari Griya Purwo Sidorejo Lampung Timur, yang kemudian dilanjutkan oleh Ida Brahmanaputra Guru Nabe Ida Mpu Siwabuddha Griya Tianyar Karangasem Bali, yang telah banyak memberikan pencerahan tentang sastra dan makna simbol-simbol dalam upacara menurut tradisi Hindu Bali.

Data-data yang berhasil penulis kumpulkan ini hanya merujuk pada satu referensi yaitu Ajaran Guru Nabe yang penulis pegang teguh sebagai sesuluh dan pedoman dalam menjalankan tata upacara menurut tradisi Hindu Bali, sehingga para pembaca tidak perlu menanyakan kenapa artikel ini tidak ada referensinya, darimana data-data tersebut diperoleh ? Kita patut memahami

bahwa Guru Nabe adalah seorang Brahmana yang tidak perlu diragukan ke-brahmana-annya, karena beliau adalah guru suci yang menjadi sumber pengetahuan suci agama Hindu. Dan, menurut tradisi aguron-guron seorang sisya harus taat dan patuh kepada ajaran yang diberikan oleh Guru Nabenya. Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk meneruskan ajaran-ajaran suci sang Newata Guru Nabe Ida Pandita Mpu Parama Nata Yoga, yang memberi bhisama kepada penulis, agar selalu taat melaksanakan upacara agama Hindu menurut tradisi Bali yang diwariskan oleh para leluhur dan memberikan pemahaman tentang inti ajaran ini kepada masyarakat adat Bali tentang makna filosofis Upacara sebagai berikut:

Ajaran Ida Sang Newata Pandita Mpu Parama Nata Yoga tersebut diatas, penulis jadikan sebagai guru sastra yang sangat luar biasa, mengandung makna filosofis spiritual yang sangat dalam dan luas serta ajaran inti dari para brahmana dan para sisya yang menekuni ajaran kepanditaan, yaitu “dharmaning pandita sakti dan dharmaning pandita mauttama”. Oleh karena itu upacara menurut tradisi Bali mengandung makna yang sangat dalam dan luas serta tidak dapat dilepaskan dari hidup dan kehidupan umat Hindu di Indonesia.

Meneruskan ajaran Sang Newata Ida Guru Nabe Pandhita Mpu Parama Natha Yoga, yang dalam wejangannya Ida menguraikan: Dalam sejarah perkembangan Agama Hindu, Tantrayana tercatat sebagai salah satu madzab agama Hindu yang menempati kedudukan yang aman penting dan utama, bila dikaitkan dengan periodesasi dunia saat ini dikenal dengan masa kali yuga. Penting nya Tantrayana karena berkali-kali telah disebutkan, bahwa dalam jaman kali yuga yang akan sangat menonjol adalah Agama. Yang disebut dengan agama, sebenarnya adalah Tantrayana, yang secara jelas dapat dibaca dalam buku Mahanirwana Tantra, sebagai salah satu referensi terpenting dalam mengungkap ajaran agama.

Tantrayana adalah salah satu sumber dari ajaran Ciwa, yang ajarannya tertuang dalam beberapa beberapa buah buku agama, yang dianggap sebagai kitab suci yang terpenting bagi penganut Ciwaisme, selain pengakuannya terhadap kitab suci Weda. Ciwa adalah gelar salah satu malaekat dalam agama Hindu dan dijadikan sebagai gelar untuk menamakan Tuhan sebagai sumber dari segala-galanya, yang seolah-olah mengecilkan arti dan nama-nama dewa lainnya. Ciwa juga di artikan sama dengan Agama, karena nama itu dipergunakan sebagai nama lain untuk agama Hindu yang artinya sama dengan Suci. Dalam kitab sutasoma, Ciwa sebagai agama dihubungkan pula dengan nama Buddha, sehingga di Bali agama dikenal sebagai agama Ciwa Buddha dan nama itu sampai sekarang sering dipergunakan untuk menyebutkan nama Agama Hindu di Indonesia.

Di Indonesia, sejarah perkembangan madzab Ciwa mempunyai arti yang amat penting, karena bentuk-bentuk praktis agama Hindu sebagaimana dapat kita temui diperbagai wilayah nusantara, bersumber dari bentuk-bentuk ajaran yang pernah disebarluaskan sejak jaman Dharmawangsa sebagai awal madzab Ciwa. Apa yang kita lihat dan amati dalam berbagai bentuk ritual dan cara penerapannya, yang semuanya berpedoman pada kitab-kitab Ciwa, dan karena itu setidak-tidak nya dapat dikemukakan bahwa pengaruh madzab Ciwa pernah mendominasi dalam sejarah agama di Indonesia.

Mengingat besarnya pengaruh madzab Ciwa ini, maka tidaklah mengherankan kalau relik-relik peninggalan sejarah kebudayaan agama Hindu, yang ditemukan diberbagai tempat di wilayah nusantara, baik dalam penemuan arkeologis maupun penemuan lontar-lontar menunjukkan bahwa peninggalan itu pada umumnya memperlihatkan faham Ciwa yang sangat besar. Disamping itu harus diakui pula, bahwa Buddhisme yang berkembang di Indonesia, walaupun asal mulanya berasal dari ajaran Therawada yang disebarkan melalui jalur selatan, namun pada akhirnya yang paling menonjol dalam sejarah perkembangan Agama Buddha di Indonesia adalah madzab Mahayana, yang lebih dikenal dengan nama Wajrayana atau Mantrayana. Kedua madzab ini, yaitu Ciwa dan Buddha mempunyai cara-cara berpikir yang parallel, terutama sebagai madzab yang menyebarkan ajaran Tantra, dimana kedua-duanya adalah Wajrayana atau Mantrayana.

Ciwa dan Buddha dalam konteks ajaran wajrayana atau mantrayana, mengenal 3 agni adalah yajnam – yajnam dibagi menjadi 5 yang disebut Panca Yajnam, yang juga berarti Ciwa dengan aksara suciNya OM (Ongkara Pranawa). Ciwa Sidanta (agama Hindu di Indonesia) sesungguhnya adalah Tantrayana, hal ini diuraikan secara jelas dalam kitab Mahanirwana Tantra, yang memberi penjelasan tentang aksara Ca dan Ru (dibaca CARU). Aksara Ca artinya Ciwa – yang juga berarti Suci – yang juga sama berarti Agama. Sedangkan aksara Ru artinya senjata (kumpulan senjata para dewa). Jadi bila digabungkan CARU artinya Senjata Suci para Dewa yang tidak terkalahkan, mengantar sampai pada tujuan yang sempurna – Maha suci Siwa, Sadhasiwa, Paramasiwa.

CARU juga disebut RUDRA. Rudra berasal dari aksara RU dan DRA, Ru artinya kumpulan senjata para Dewa, dan Dra artinya jaya selalu, berhasil, tidak terkalahkan dan mengantarkan pada tujuan kesempurnaan alam beserta segala isinya. Dalam ajaran Ciwa Tattwa kita mengenal nama dan rupa, yaitu; Manusa, Bhuta, Dewa, Rsi dan Pitri. Dalam kegiatan upacara keagamaan dilandaskan pada konsep Panca Yadnya, dan setiap upacara harus diawali dengan CARU (Ca dan Ru) -- Dewa ada Warna, ada Nama, ada Raga -- Raga adalah Alam -- Alam adalah Caru -- Caru adalah Alam -- menanding Caru sama dengan menanding Alam. Dalam konsep nama dan rupa dinyatakan: Bhuta adalah Raga -- Bhuta adalah Alam -- Alam adalah Caru; Manusa juga punya Raga -- Raga adalah Alam -- Alam adalah Caru; Dewa juga punya Raga -- Raga adalah Alam -- Alam adalah Caru; Rsi juga punya Raga -- Raga adalah Alam -- Alam adalah Caru; Pitri juga punya Raga -- Raga adalah Alam -- Alam adalah Caru.Menanding Caru adalah menanding  Alam kembali, sempurna Caru, sempurnalah Alam, sempurna Alam, maka sempurnalah seluruh kehidupan di Alam.

Berdasarkan uraian tersebut, maka sangat jelas bahwa upacara/ritual yang dilaksanakan oleh para leluhur dan diwariskan kepada kita semua, bukanlah sekedar pengorbanan, atau menyembelih hewan untuk para bhuta dan lain-lainnya, tetapi mengandung filosofi spiritual yang sangat tinggi, ajaran Tantrayana yang terdapat dalam Ciwaisme dan diterapkan oleh para pengikutnya hingga saat ini. Semoga mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan.

 

B.Deskripsi CARU dalam Upacara Pembangunan Tempat Suci

Untuk memberikan gambaran tentang implementasi CARU dalam kegiatan upacara bersama ini penulis akan menguraikan terlebih dahulu Upacara Pembangunan tempat suci dari Upacara Ngeruak sampai pelaksanaan Piodalan, dimana dalam setiap upacara yang dilaksanakan tersebut terdapat CARU sebagai upakara bersifat inti dan wajib ada. Untuk itulah maka penulis akan menguraikan terlebih dahulu tentang tahapan upacara dalam pembangunan tempat suci yang dijadikan sebagai sampel dalam penulisan artikel ini.

1.Upacāra Memungkah

Upacāra ini juga disebut sebagai upacara ngeruwak karang, dilaksankan sebagai Upacāra awal sebagai persiapan membangun tempat suci. Maksud upacara ini adalah merubah status tanah yang sebelumnya mungkin hutan, sawah/ladang. Jenis Upacāra ini dilaksanakan secara khusus berkaitan dengan pembangunan baru atau pemugaran tempat suci secara menyeluruh.

2.Upacāra Nyukat Karang

Yang dimaksud dengan Upacāra Nyukat Karang adalah mengukur secara pasti letak bangunan pelinggih yang akan didirikan dan luas masing-masing mandala pura, sehingga tercipta sebuah tatanan pura yang seusai dengan aturan yang termuat dalam Asta Kosala-Kosali, maupun Asta Bumi.

3.Upacāra Nasarin

Upacāra Nasarin adalah upacāra peletakan batu pertama untuk permakluman kehadapan Ibu Pertiwi, dengan mempersembahkan upakāra sesayut pertiwi, pejati dan upakāra lainnya. Pada upacāra ini dipendam sebuah bata merah yang telah dirajah dengan padma angalayang dengan aksara “dasaksara” dan bedawang nala yang bertuliskan Angkara, yang dibungkus dengan

kain merah, diisi kuangen; sebuah batu bulitan yang dirajah dengan aksara Ang-Ung-Mang dibungkus kain hitam dan diisi sebuah kuangen; sebuah klungah kelapa gading ditulisi dengan aksara Omkara Gni, dibungkus dengan kain putih dan diisi kuangen.

4.Upacāra Memakuh, Melaspas

Upacāra ini bertujuan untuk membersihkan semua pelinggih dari kotoran tangan undagi (para pekerja bangunan) agar para Dewa/Bhatara/Bhatari berkenan melinggih di pura ini setiap saat terutama pada waktu Upacāra pujawali, sedangkan untuk membersihkan/mensucikan areal pura secara niskala dilaksanakan Upacāra pecaruan berupa Penyudha Bumi. Pelaksanaan pemelaspasan yang menyangkut tingkatannya, dengan memperhatikan kedudukan dan fungsi Pura masing-masing, maka akan ditentukan atas/berdasarkan petunjuk para Sulinggih yang dikaitkan dengan adat setempat yang telah berlangsung sejak dahulu dengan asumsi, bahwa pelaksanaan Upacāra akan menjadi lebih sempurna.

5.Upacāra Mendem Pedagingan

Setelah melaksanakan Upacāra pemelaspasan dan Sudha Bumi akan dilaksanakan Upacāra Mendem Pedagingan, sebagai simbol singgasana Hyang Widhi yang disthanakan. Bentuk serta jenis pedagingan antara satu Pelinggih dengan Pelinggih lainnya tidak sama, hal ini tergantung dari jenis bangunan Pelinggih yang bersangkutan, termasuk jenis bebantennya pun juga ada yang berbeda. Tata cara membuat dan memendem pedagingan ini disamping mengikuti sastra agama, juga berpedoman kepada isi Bhisama Mpu Kuturan, sebagaimana dilaksanakan ketika membangun Meru di Besakih. Adapun cuplikan Bhisama dimaksud adalah sebagai berikut:

Yan meru tumpang 11, tumpang 9, tumpang 7, tumpang 5, sami wenang mepadagingan tur mangda memargi manista, madya, utama, lwir, yaning meru tumpang 11, pedagingannya ring dasar salwiring prabot manusa genep mewadah kwali waja. Sejawaning prabot manusa, maweweh antuk ayam mas, ayam selaka, bebek mas, slaka, kacang mas, slaka tumpeng mas, slaka, naga mas, slaka, mamata mirah, prihpih mas, slaka, tembaga miwah jarum mas, slaka, tembaga, padi mas, ika dados dasar. Tumpang meru ika wilang akeh ipun, sami medaging prihpih kadi ajeng saha mawadah rerapetan sane mawarna putih, mwah wangi-wangian sete gepe, mawastra putih, rantasan sapradeg. Ring madyaning tumpang merune, madaging prihpih, jarum kadi ajeng, miwah padhi musah 2, wangi-wangian setegepe. Ring puncaknya, taler prihpih mas, slaka miwah jarum kadi ajeng, tur maweweh mas 1, masoca mirah, murda wenang. Asapunika kandaning meru tumpang 11, pedaginganipun, yaning buat jinah punika manista madya utama, utama jinah papendemane 11 tali, madya 8 tali, nista 4 tali.

Malih pedagingan padmasana ring dasar pedaginganipun, Bhadawangnala mas, slaka mwah prabot manusa genep, wangi-wangian pripih mas, slaka, tembaga, jarum mas, slaka, tembaga miwah podhi mirah 2, tumpeng mas, slaka, capung mas, sampian mas, slaka, nyalian mas, udang mas, getem (ketam) temaga, tan lempas mewangi-wangian segenepa, mewadah rapetan putih, metali benang catur warna. Malih pedagingan ring madya, lwire pripih mas, merajah makara, pripih slaka merajah kulum, pripih tembaga merajah getem, miwah jarum manut pripih, phodi mirah 2, tan sah wangi-wangian setegepa mewadah rerapetan putih. Malih korsi mas mewadah lingir sweta, punika ngaran utama yadnyan nista, madia utama, sluwir-luwir padagingan ika, kawanganya maprasistha rumuhun. Sampunang pisan mamurug, dawning linggih Bhatara, yang ande kapurug, kahyangan ika wenang dadi pesayuban Bhuta pisaca, makadi sang mewangun kahyangan ika, tan memanggih rahayu terus tumus kateka tekeng putra potrakanya, asapunka kojarnya sami mangguh lara roga. Malih pedagingan ring luhur luwire, padma mas, masoca mirah korsi mas, phodi mirah, asapunika padagingannya ring padmasana.

Kutipan dari bhisama tersebut diatas, kiranya tidak perlu dialihbahasakan lagi, karena telah mempergunakan bahasa Bali lumrah, sehingga telah dapat dimengerti sebagian masyarakat umat Hindu yang ada di Bali.

6.Upacara Ngenteg Linggih

Ngenteg linggih adalah sebagai rangkaian upacāra paling akhir dari pelaksanaan upacāra mendirikan sebuah pura, secara etimologi mengandung pengertian; ngenteg yang artinya menetapkan - linggih yang artinya menobatkan/menstanakan. Jadi Ngenteg Linggih adalah upacāra penobatan/menstanakan Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya pada Pelinggih yang dibangun, sehingga Ida berkenan kembali setiap saat terutama manakala dilangsungkan segala kegiatan Upacāra di pura yang bersangkutan. Mengenai pelaksanaan ngenteg linggih yang dilaksanakan itu secara garis besarnya adalah sebagai berikut:

Upacāra ditandai dengan membangun Sanggar tawang rong tiga, dilengkapi dengan banten; suci 4 (empat) soroh dan banten catur, tegen-tegenan, serta perlengkapan lainnya berupa sesayut gana, telur, benang, kelapa sebanyak 40 (empat puluh) butir yang dikemas dalam empat bakul, uang kepeng 52 buah. Apabila di Sanggar tawang menempatkan tirta, mesti dilengkapi lagi dengan banten suci untuk tirta yang ditempatkan disana dan reruntutan lainnya (menurut petunjuk Sulinggih). Pada undakan Sanggar tawang bebantennya adalah suci samida beserta beras pangopog sebakul berisi bunga lima jenis, seperangkat peras pagenayan bertumpeng merah, ayam biing dipanggang, dilengkapi dengan daksina berisi benang merah. Pada Sanggar tawang memakai lamak 4 (empat) buah pada rong yang ditengah memakai lamak surya dan lamak candra, lamak segara pada rong selatan, lamak gunung pada rong paling utara. Pada masing-masing ruangan juga dilengkapi dengan ujung daun pisang kayu, plawa dilengkapi pajeng, tetunggul empat warna: putih, kuning, merah dan hitam. Pada bangunan panggungan perlengkapan nya adalah pring kumaligi, beralaskan pane diisi beras dan uang kepeng 225, benang setukel dan memakai busana lengkap. Perlengkapan lain berupa sesantun beras senyiru, 5 butir kelapa, telur, benang, uang 5.000,- (lima ribu), jerimpen 5 (lima) tanding, dijadikan lima nyiru, ini disebut banten paselang.

Banten dibawah panggungan dilengkapi dengan gayah, sate bebali dan gelar sanga ditambah dengan plegembal. Di depan lubang yang nantinya akan digunakan mepulang/menanam pedagingan, didepannya digelar baying-bayang (kulit) kerbau hitam, sesajen selengkapnya dengan bebangkit warna hitam, pulakerti 1, suci 1, pagu putih ijo cawu guling, cawu renteg, isu-isu, kwangi. Pada Sanggar tutuwan, bantennya adalah penebusan dengan perlengkapannya, suci putih, bebangkit dan pulakerti, sedangkan banten sorohannya dihaturkan kehadapan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi yang berstana di Sapta Patala (nama pelinggih), berupa; suci asoroh, bebangkit hitam, guling dan dedanganan, bebantenan di natar pura,  berupa; CARU PANCA SANAK, bayang-bayang (kulit) angsa, bebek belang kalung, anjing belang bungkem, kambing hitam, dilengkapi dengan suci, bebangkit hitam, pulakerti dan beras serba sepuluh. Setelah semua perlengkapan upacāra ini disiapkan, barulah pemujaan oleh Sulinggih, kemudian diakhiri dengan persembahyangan bersama.

Catatan:

Tingkatan Upakāra dan Upacāra dari Ngeruwak sampai Ngenteg Linggih pelaksanaannya agar disesuaikan dengan petunjuk sastra dan petunjuk para Sulinggih yang menjadi Manggala Upacāra saat Upacara Ngnteg Linggih.

C.CARU dalam Upacara Pujawali

Upacāra Pujawali lazim disebut piodalan adalah salah satu bentuk pelaksanaan Dewa Yadnya, yang dilakukan oleh umat Hindu ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dan Para Dewata. Bagi umat Hindu khususnya etnis Bali, yadnya ini berbentuk bebantenan yang menjadi salah satu bentuk persembahan. Yadnya ini merupakan wujud nyata dari ungkapan terima kasih yang tulus ikhlas kepada Ida Sang Hyang Widhi, terutama dalam meyakinkan getaran-getaran spiritual dari nurani para penyunsgungnya. Bahwa kehidupan manusia amat tergantung pada-Nya. Ungkapan terima kasih kehadapan Hyang Widhi inilah yang melandasi umat Hindu dalam melaksanakan Yadnya, sebagaimana tertuang dalam Bhagawadgita (sebagai salah satu dari sumber etika hindu), Bab II sloka 12–13 yang berbunyi:

Istam bhogam hi vo dava dasyate, yajnabhawitah tuir dattan aprodayani'bhyo yo bhumkte stana eva sah, artinya dipelihara oleh yadnya, para dewa  akan memberi kamu kesenangan yang kau inginkan, Ia yang menikmati pemberian-pemberian ini, tanpa memberikan balasan kepada-Nya adalah pencuri.

Yajnasistasinah santo mueyanto, sarvakilbisaih bhunyate teti agham papa ya pacanty atma karanat, artinya orang-orang yang baik yang makan apa yang tersisa dari Yadnya, mereka itu terlepas dari segala dosa, akan tetapi mereka yang jahat yang menyediakan makan bagi kepentingan sendiri adalah makan dosanya sendiri.

Dengan demikian sudah amat wajarlah setiap orang yang mengakui Kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, akan berusaha berbuat segala sesuatunya sesuai dengan kemampuan serta keadaannya untuk melaksanakan Yadnya kepada-Nya. Namun apa yang paling penting dalam melaksanakan Yadnya itu adalah adanya rasa yang tulus ikhlas yang terlahir dari lubuk hati yang paling dalam (suci nirmala), yang bukan didasarkan atas besar kecilnya yadnya yang dilaksanakan. Dalam Bhagawadgita, III.28 dinyatakan, bahwa yadnya yang paling sederhana boleh dilaksanakan:

Patram puspam phlam toyam, yo me bhaktya prayocehati tad sham bhaktyapahrtam asnami prayat atmanah, artinya siapapun dengan penuh bhakti dan tulus mempersembahkan kepada-Ku daun, bunga, buah-buahan dan air, persembahan yang didasari dengan cinta yang keluar dari hati yang suci, Aku terima.

Memperhatikan beberapa petunjuk diatas, maka para penyungsung Pura dan umat bertekad melaksanakan dan mensukseskan Upacāra Pujawali (piodalan) sesuai subadewasa, dengan segala ketulusan hati yang suci nirmala. Secara umum rangkaian sebuah Pujawali/Piodalan dengan rangkaian Upacāra sebagai berikut:

 

1.Upacāra Nuasin Karya (Matur Piuning Persiapan Pujawali)

  1. Setelah semua banten munggah di pelinggih masing-masing. Pinandita memulai memuja diiringi Kidung suci.
  2. Pinandita memohon Tirtha Pabersihan, Pelukatan, Byakala, Prayascita, dan Tirtha Pengulapan.
  3. Semua Banten dan Pelinggih disucikan dengan urut-urutannya, yaitu: Pasepan, Toya anyar, Byakala; pengeresikan - tirtha (padma) - banten byakala diayabkan ke pelinggih bagian bawah.
  4. Prayascitta: pengeresikan - tirtha (padma) - bungkak gading (lis senjata) - banten Prayascita diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  5. Pengulapan: pengeresikan - tirtha (padma) - bungkak bulan (lis) - banten pengulapan diayabkan ke pelinggih bagian atas.

Catatan:

Semua kegiatan a- e dijalankan mulai dari Padmasana - TamanSari - Pengempon Tirtha– Beji - Anglurah - Bale Pawedaan - Pengraksa Karya mulai dari sudut Timur Laut (Shri), Tenggara (Aji), Barat Daya (Rudra), Barat Laut (Kala), lalu diteruskan ke Candi Agung, Ganesha - Sanggar Tapeni - Dapur Suci - Bale Kulkul - Candi Bentar - Pemedal agung - pelinggih Maya - Bale Banjar - Bale Gong - Penunggu Karang - Bale Ebat - Dapur- Pemedal Banjar - lalu petugas kembali ke Utama Mandala. Dibutuhkan 13 orang untuk pengayah dalam prosesi ini.

  1. Umat diperciki tirtha Prayascita, dilanjutkan dengan sembahyang bersama dan kerama ning sembah.
  2. Nunas Tirtha Wangsuhpada.
  3. Puja parama santih.

 

2.Upacāra Ngingsah (Taman Sari/Beji) - Bersamaan dengan Upacāra Nuasin Karya (Matur Piuning Persiapan Pujawali)

Pinandita memohon Tirtha 5 (lima) Jenis dari Taman Sari atau Beji:

  1. Daksina Taksu (Daksina Mepayas), Rantasan Putih Kuning, dan Bahan-bahan Upacāra diiring ke Beji oleh Serati banten.

 

  1. Prosesi Ngingsah beras catur warna dimulai diawali pemercikan 5 jenis Tirtha, kemudian Nyeruh beras, nampinin beras, kemudian ngingsah dengan Sibuh Pepek, Kuskusan Suda mala, tempat beras: Beras - Beras merah - Beras kuning/ketan - Beras hitam/injin - kacang- kacangan (bija ratus).
  2. Tirtha ngingsah dipercikkan ke umat.
  3. Daksina Taksu Tapeni dan bahan - bahan upakāra dan beras yang telah di ingsah diiring ke madya mandala (Sanggar Tapeni).

 

3.Upacāra Ngereka Beras Catur (Sanggar Tapeni)-Bersamaan dengan Upacara Nuasin Karya (Matur Piuning Persiapan Pujawali)

  1. Daksina Taksu (daksina mepayas), rantasan putih kuning di linggihkan di sanggar Tapeni; Suci alit, Pejati, Sesayut Bagia Setata, Bahan – bahan upakāra 1 tempeh, dibawahnya.
  2. Dua tempeh sukla 2, kain putih + @ 0.5 meter, Kuangen pengerekan 11x2, uang kepeng 108x2, beras yang sudah diingsah, cili lanang-istri @ 1 buah, soda 2, canang lenga wangi 2 burat wangi 2, canang pengeraos 2, canang sari 2.
  3. Beras direka menyerupai manusia laki dan perempuan (yang laki-laki ditanding oleh Pria dan yang perempuan ditanding oleh wanita).
  4. Muspa kehadapan bhagawan Wiswakarma dan Bhatari Tapeni, memohon agar rangkaian upacāra Pujawali berjalan dengan lancar, aman, tidak ada yang bertengkar/selisih paham dan semuanya bergembira, serta tidak boros, kemudian dilanjutkan dengan memercikan tirtha Pengraksa Karya dan Tirtha Panginih-inih.
  5. Selanjutnya membuat adonan tepung untuk samuhan catur, suci, pebangkit, pulagembal, dan jerimpen sumbu.

 

4.Upakāra Nunas Tirtha Ke Pura Lain

  1. Setelah semua banten munggah di pelinggih masing-masing. Pinandita memulai memuja diiringi kidung suci.
  2. Pinanandita memohon Tirtha Pabersihan, Pelukatan, Byakala, Pryascita, dan Tirtha Pengulapan.
  3. Semua Banten dan Pelinggih disucikan dengan urut-urutan: pasepan - toya Anyar- byakala: pengeresikan, tirtha (padma), banten Byakala diayabkan ke pelinggih bagian bawah.
  4. Prayascitta: pengeresikan, tirtha (padma), bungkak gading (lis senjata), banten prayascita diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  5. Pengulapan:  pengeresikan,  tirtha  (padma),  bungkak  bulan  (lis),  banten pengulapan      di ayabkan ke pelinggih bagian atas.

Catatan:

  • Semua kegiatan a–e dijalankan mulai dari Padmasana–TamanSari–Pengempon Tirtha– Beji–Anglurah, Bale Papelik–Bale Pawedaan–Asagan Banten–Pengraksa Karya mulai dari sudut Timur Laut (Shri), Tenggara (Aji), Barat Daya (Rudra), Barat Laut (Kala), Bumbung Tirtha, lalu diteruskan ke Candi Agung, Ganesha–Sanggar Tapeni–Dapur Suci Bale Kulkul–Candi Bentar, Bale untuk Nedunang–Pemedal Agung–Pelinggih Maya– Bale Banjar–Bale Gong–Penunggu Karang–Bale rbat–Dapur–Pemedal Banjar, lalu petugas kembali keutama mandala. Dibutuhkan 13 orang untuk pengayah dalam prosesi ini.
  • Jika tidak ada kegiatan nunas tirtha ke Pura lain, maka upacara ini, maka kegiatan ini tidak dilaksanakan.
  • Umat diperciki tirtha Prayascita, dilanjutkan dengan sembahyang bersama dengan melakukan puja Trisandya dan keramaning sembah. Selanjutnya; Nunas Tirtha Wangsuh pada, Puja parama santih, Petugas nunas Tirtha dibagikan Bumbung dan Banten.

 

5.Upacāra PECARUAN

  1. Setelah semua banten munggah dipelinggih masing-masing. Pandita memulai memuja di iringi kidung suci, tabuh lelambatan.
  2. Pandita/Pinandita memohon Tirtha Pabersihan, Pelukatan, Byakala, Prayascita, dan Tirtha Pengulapan.
  3. Semua Banten dan Pelinggih disucikan dengan urut-urutan: Pasepan, Toya Anyar
  4. Byakala: Pengresikan, Tirtha (padma), Banten Byakala diayabkan ke pelinggih bagian bawah.
  5. Prayascitta: Pengeresikan, Tirtha (padma), Bungkak Gading (lis senjata), Banten Prayascita diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  6. Pengulapan: pengresikan, Tirtha (padma), Bungkak Bulan (lis), Banten Pengulapan diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  7. Lis Gde, Sibuh pepek dan Tirtha dari Ida pedanda.

Catatan:

Semua kegiatan a - e dimulai dari Padmasana - Taman Sari - Pengempon Tirtha - Beji - Ang lurah, Bale Papelik - Bale Pawedaan - Asagan Banten - Pengraksa Karya mulai dari sudut Timur Laut (Shri), Tenggara (Aji), Barat Daya (Rudra), Barat Laut  (Kala),  Bumbung Tirtha, lalu diteruskan ke Candi Agung, Ganesha - Sanggar Tapeni - Dapur Suci - Bale Kulkul - Candi Bentar - Caru, Bale untuk Nedunang - Pemedal Agung - Pelinggih Maya - Bale Banjar - Bale Gong - Penunggu Karang - Bale Ebat - Dapur - Pemedal Banjar, lalu petugas kembali ke Utama Mandala. Dibutuhkan 15 orang untuk pengayah dalam prosesi ini.

  1. Pandita/Pinandita mapuja ke Surya (Upasaksi)
  2. Pandita/Pinandita Ngundang Bhūta (Manca Warna, Manca Sanak, Manca Sato) diikuti kidung Bhūta Yajña.
  3. Pemercikan Tirtha Pecaruan (Byakala, Prayascita dan Tirtha Caru) dimulai dari arah Timur- Selatan-Barat-Barat-Utara-Tengah.
  4. Pandita/Pinandita Ngayabang Caru dibantu oleh umat (7 orang)
  5. Pandita/Pinandita Ngelukat Bhūta dibantu oleh Pinandita
  6. Pralina Bhūta
  7. Nyarub Caru, dengan urut-urutan: Tirtha Caru, Nasi Caru, Sampat, Tulud, Kulkul, dilak sanakan memutar berlawanan dengan arah jarum jam (prasawya) sebanyak 3 kali diikuti Gong Beleganjur
  8. Kemudian Pandita/Pinandita Mepuja dalam rangka Nedunang Para Dewa dan Ida Bhatara yang akan diodalin.

 

6.Upacāra Nedunang Para Dewa

  1. Telajakan wastra putih dari padmasana sampai dengan candi bentar diatasnya berisi canang sari.
  2. Dipanggungan: Suci Laksana, Daksina Gede, Pejati. Dibawah panggungan: SEGEHAN AGUNG, Arak-Berem-Tuak.
  3. Perlengkapan lain: Pasepan, Kober, Lontek, Tumbak, Mamas, Penuntun, Sesayut Penuntun Dewa, Sesayut Pemagpag, Sesayut Pengiring, SEGEHAN AGUNG, Cane, Tempat Tirtha, Rantasan, Daksina Pralingga, Tedung, Gong Beleganjur.
  4. Banten Arepan; Peras, Daksina, SEGEHAN.
  5. Tirtha Panedunan dari Ida Pedanda
  6. Setelah semua uperengga diatas berada dipanggungan, pinandita mulai ngastawa, di iringi dengan kidung dan Gong Beleganjur, selesai ngastawa; ngemargian tirtha Penedunan, ngaturang banten ring panggungan. (Catatan: Semua prosesi diatas dimulai dari Pralingga Padmasana, Taman Sari, Pangemit Tirtha, Anglurah)
  7. MASEGEH AGUNG oleh pinandita.
  8. Tedun dari panggungan dengan melewati panggungan dengan urut-urutan dari depan: Pasepan, Penuntunan, Mamas, Umbul-umbul, Banten pemagpag, Banten Penuntun, dewa,Banten Pangiring, Cane, Rantasan, Tempat Tirtha, Daksina Pralingga, Tedung. (Catatan: Dari Rantasan sampai dengan Tedung berurutan dari Padmasana, Taman Sari, Pangemit Tirtha, Anglurah; dibelakang Daksina Pralingga Anglurah: Sekeha Santi, Beleganjur, umat; pelaksanaan acara tersebut dibutuhkan 26 orang pengayah)

 

7.Upacāra Medatengan di Depan Candi Bentar

Pejati 1, pangulapan, datengan, canang pangrawos, masing-masing daksina pralingga; soda pemendak, pependetan dan atau bebarisan;

  1. Pinandita mepuja ngaturang banten datengan.
  2. Tarian papendetan.
  3. Memargi ke utama mandala menuju Bale Papelik.
  4. Beleganjur sampai didepan Kori Agung.

 

8.Banten Mesandekan Ring Bale Papelik

  1. Pejati 1, masing-masing daksina pralingga: banten rayunan (hidangan nasi, lauk, sayur, minuman menjadi satu tempat), dibawah: SEGEHAN CACAH.
  2. Setelah selesai mesandekan menuju Taman sari untuk mesucian.

 

9.Upacāra Masucian Ring Beji (Pancoran)

Suci alit, pejati, ayaban tumpeng lima, eteh-eteh pasucian (sisir, cermin, minyak wangi, bedak), masing-masing daksina pralingga; canang lenga wangi, canang burat wangi, wastra (kain, handuk, sabuk stagen), SEGEHAN CACAH, kegiatan:

  1. Pinandita mulai ngaturang banten bersamaan ketika Ida Bhatara Medatengan
  2. Daksina Pralingga mulai dari Padmasana sampai Anglurah dihaturi: toya anyar, sabun, air kumkuman, katuran wastra, sisir, bedak, minyak wangi, cermin, SEGEHAN CACAHAN persiapan purwa daksina.

 

10.Upacāra Mapurwa Daksina

  1. Pinandita ngaturang SEGEHAN AGUNG didepan padmasana, petabuh arak-berem dan tuak.
  2. Urut-urutan purwa daksina: pasepan, penuntunan, mamas, umbul-umbul, banten pemagpag, banten penuntun Dewa, banten pangiring, cane, rantasan, tempat tirtha, daksina pralingga, tedung.

Catatan:

Dari rantasan sampai dengan tedung berurutan dari padmasana, taman sari, pangemit tirta, anglurah; dibelakang daksina pralingga anglurah: sekeha santi, umat; selesai purwa daksina ngelinggihang ke masing-masing pelinggih oleh pinandita dibantu para sutra.

 

11.Upacāra Pujawali

  1. Setelah semua banten munggah di pelinggih masing-masing, pandita memulai memuja diiringi kidung suci, tabuh lelambatan.
  2. Pandita memohon tirtha pabersihan/pelukatan, byakala, Prayascita, dan tirta pengulapan.
  3. Semua banten dan pelinggih disucikan dengan urut-urutan: pasepan, toya anyar.
  4. Prayascitta: pengeresikan, tirtha (padma), bungkak gading (lis senjata), banten prayascita diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  5. Pengulapan:pengresikan, tirtha (padma), bungkak Bulan (lis), banten pengulapan diayab kan ke pelinggih bagian atas.
  6. Tirtha padudusan dari Pandita.
  7. Tirtha catur kumbha dari Pandita.
  8. Lis gede, sibuh pepek dan tirtha dari Pandita

Catatan:

Semua kegiatan a-g dimulai dari padmasana-tamansari-pengempon tirtha-beji-anglurah, bale papelik-bale Pawedaan-asagan banten-pengraksa karya mulai dari sudut Timur Laut (Shri), Tenggara (Aji), Barat Daya (Rudra), Barat Laut (Kala), lalu diteruskan ke Candi agung, ganesha - sanggar Tapeni - Dapur suci - Bale kulkul - Candi bentar - Pemedal agung Pelinggih Maya - Bale banjar - Bale gong - Penunggu karang - Bale ebat – Dapur - Pemedal banjar, lalu petugas kembali ke utama mandala. Dibutuhkan 16 orang pengayah untuk prosesi ini.

  1. Pandita mapuja ngaturang Pujawali
  2. Sembahyang bersama
  3. Mejaya-jaya
  4. Nunas tirtha
  5. Dharma Wacana
  6. Puja Parama Santih

 

12.Upakāra Nganyarin:

  1. Pagi Hari H+1 Jam 09.00

Sanggar agung, padmasana, tamansari, pengempon tirtha, anglurah, bale papelik, pang gungan, tapeni, penunggu karang: masing-masing, pejati, kopi/teh, kue, di bawah pelinggih: segehan seperti biasa; sedangkan pelinggih yang lain masing-masing soda; arepan memuja: pejati dan SEGEHAN CACAH.

  1. Siang Hari H+1 Jam 12.00

Sanggar agung, padmasana, tamansari, pengempon tirtha, anglurah, bale pelik, pang gungan, tapeni, penunggu karang; masing-masing, rayunan, sedangkan dipelinggih yang lainnya masing-masing rayunan alit; arepan memuja: soda.

Catatan:

Upacara Nganyarin dilaksanakan jika pujawali/piodalannya nyejer, selama nyejer dilaksana kan persembahan banten Nganyarin dan umat sembahyang. Jika pujawali/ piodalan tidak nyejer, maka upacara ini ditiadakan.

 

13.Upacāra Penyineban

  1. Pinandita ngaturang banten panyineban
  2. Sembahyang bersama
  3. Nunas tirtha
  4. Nedunang daksina pralingga dari masing-masing pelinggih
  5. Urut-urutan nyineb; purwa daksina, pasepan, penuntunan, mamas, umbul-umbul, banten pemagpag, banten penuntun Dewa, banten pengiring, cane, rantasan, tempat tirta, daksina pralingga, tedung, salaran dan tegen-tegenan

Catatan:

Dari rantasan sampai dengan tedung berurutan dari padmasana, tamansari, pangemit tirtha, anglurah; di belakang daksina pralingga anglurah, yaitu: sekeha santi, umat; selesai purwa daksina, mesandekan di asagan, pinandita ngaturang banten pangluhur, pinandita ngaturang segehan agung, tirtha pralina untuk daksina pralingga, banten tetingkeb, ngelukar dakasina pralingga, puja parama santih dan meprani.

 

14.Upacāra Ngelemekin

  1. Setelah semua banten munggah di pelinggih masing-masing. Pinandita memulai memuja diiringi Kidung suci.
  2. Pinanandita memohon Tirtha pabersihan, pelukatan, byakala, prayascita, tirtha pengulapan.
  3. Semua Banten dan pelinggih disucikan dengan urut-urutan: pasepan, toya anyar.
  4. Byakala: pengresikan, tirtha (padma), banten byakala diayabkan ke pelinggih pada bagian bawah.
  5. Prayascitta: pengresikan, tirtha (padma), bungkak gading (lis senjata), selanjutnya banten prayascita diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  6. Pengulapan: pengeresikan, tirtha (padma), bungkak bulan (lis), banten pengulapan  diayab kan ke pelinggih bagian atas.

Catatan:

Semua kegiatan a-e dimulai dari padmasana-tamansari-pengempon tirtha-Beji-anglurah- bale pawedaan-pengraksa karya mulai dari sudut timur laut (Shri), tenggara (Aji), Barat Daya (Rudra), Barat Laut (Kala), lalu diteruskan ke candi agung, ganesha sanggar tapeni- dapur suci-bale kulkul-candi bentar-pemedal agung-pelinggih maya-bale banjar-bale gong- penunggu karang-bale ebat-dapur-pemedal banjar-lalu petugas kembali ke utama mandala. Dibutuhkan 13 orang pengayah untuk prosesi ini.

  1. Mralina Daksina Pralingga Dewi Tapeni
  2. Ngaturang Suyuk
  3. Mralina Lingga Bhagawan Wiswakarma
  4. Umat diperciki tirtha Prayascita
  5. Sembahyang bersama dan Keramaning sembah
  6. Nunas Tirtha Wangsuhpada
  7. Ngaturang Guru Dakasina kepada: Pinandita, Serati Banten, Panitia, Banjar
  8. Puja parama santih
  9. Asah-Asih-Asuh

 

D.Penutup

Demikianlah Filosofi Caru dalam Upacara Tradisi Hindu (etnis Bali), yang menjadi inti dari sebuah upacara yadnya. Tanpa Caru upacara yang dilakukan tidak akan sempurna. Menanding Caru adalah menanding Alam kembali---Sempurna Caru, sempurnalah Alam---Sempurna Alam, maka sempurnalah seluruh kehidupan Alam Semesta. Dari uraian-uraian yang penulis sampaikan ini, maka timbul pertanyaan yang harus dijawab melalui langkah dan tindakan nyata bagi kita semua, mampukah kita melaksanakan petunjuk sastra bhisama raja purana ini dalam kehidupan sehari-hari sebagai insan religious ?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, penulis serahkan sepenuhnya kepada para pembaca, karena kami menyadari bahwa kami juga adalah sosok Hindu yang terlahir dengan segala keterbatasan kemampuan, baik dalam berpikir, berkata maupun bertindak dan bukan pula menjadi tugas sang yajamana, tetapi tugas kita semua sebagai Umat Hindu terutama generasi sekarang dan masa mendatang. Kami sebagai penulis, pemerhati adat Bali merasa sangat yakin hal tersebut dapat dilaksanakan, apabila dalam melangkah senantiasa dilandasi dengan pikiran tulus dan suci, tidak ada hal yang tidak mungkin dalam kehidupan ini, lebih-lebih demi kepentingan yang lebih besar dan untuk kerahayuan jagat. Demikian kesimpulan dari karya ilmiah ini, yang sudah tentu masih banyak kekurangannya, mari kita renungkan dalam usaha kita ngrstiti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar dianugrahkan kerahayuan dan kebahagiaan. “Om Santih Santih Santih Om”.

 

 Bandar Lampung, 24 Desember 2019

Ketua Majelis Adat Pekraman Provinsi Lampung

Jro Bendesa Agung Dr. I Ketut Seregig, S.H., M.H

Discussion Service:

Contact person: 085237391585, 082183454545

Email: ketut1183@gmail.com

  • Selasa, 21 Januari 2020 - 18:52:46 WIB
  • Administrator-MAP-Lampung

Berita Terkait Lainnya